Tanam Durian untuk Tabungan Pendidikan Anak


Adakah hubungan antara aktivitas menanam pohon dengan tabungan? Tentu saja tidak. Namun, percaya atau tidak masyarakat Desa Ulak segelung, Kecamatan Inderalaya Utara Ogan Ilir justru melakukan gerakan tanam durian dengan harapan tujuh hingga sepuluh tahun mendatang tanaman tersebut menghasilkan laba yang dapat digunakan untuk biaya pendidikan anak-anaknya.
Ide ini sebenarnya digagas oleh KSM Payung Desa, salah satu kelompok masyarakat yang ada di desa tersebut. Melalui pembicaraan singkat dengan pendamping dari Yayasan Keluarga Mandiri Pedesaan (YKMP) Inderalaya ide ini terlaksana pada puncak acara sosialisasi Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (PKBG) di Desa Ulak Segelung, pada 26 – 29 November 2007.
Menurut Naziri Burhiah, Direktur Yayasan Keluarga Mandiri Pedesaan (YKMP) ide untuk menanam durian sebagai tabungan pendidikan ini dilatarbelakangi oleh kondisi alam desa yang banyak ditumbuhi dengan tanaman buah tropis, seperti durian, duku dan sejenis kueni (bhs local : asam-asaman). Sejak dulu, hasil dari tanaman buah local ini sebenarnya telah membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat setempat, namun saat ini beberapa areal lahan yang ditumbuhi buah-buahan tersebut mulai hilang, diganti dengan areal pemukiman dan juga pohon-pohon durian yang berusia tua ditebang untuk diambil kayunya. Gerakan menanam tanaman durian ini, selain bertujuan sebagai gerakan reboisasi dan bentuk kepedulian terhadap lingkungan juga sebagai tabungan pendidikan bagi anak-anak. “Dua kepentingan mencoba kita gabungkan dalam kegiatan ini, di samping sebagai usaha konservasi tanah dan lingkungan juga diharapkan berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat,” kata Naziri lagi.

Sekilas tentang Ulak Segelung
Ulak Segelung merupakan salah satu desa dari 164 desa yang ada di Kabupaten Ogan Ilir. Desa Ulak Segelung baru defenitif pada Februari 2002. Desa Ulak Segelung disebelah barat berbatasan dengan Desa Tanjung Agung dan Desa Sakatiga, sebelah Timur dengan Desa Ulak Bedil, sebelah utara dengan desa Ulak Banding&Muara Penimbung dan sebelah selatan berbatasan dengan desa Tebing Gerinting. Desa Ulak Segelung terbagi menjadi 3 Dusun yakni Dusun I, II dan III yang masing-masing dikepalai seorang kepala dusun.
Jumlah penduduk Desa Ulak Segelung kurang lebih 1300 jiwa dengan 291 KK yang terdiri dari 780 laki-laki dan 520 perempuan, tersebar kedalam 3 dusun dan menetap secara terpencar.
Kondisi rumah masyarakat secara fisik berdasarkan hasil pemantauan umumnya (sebagian besar) menggunakan bahan bangunan berupa dindingnya terbuat dari atap daun nipah dan beralaskan bambu. Sebagian masyarakat yang mendapatkan bantuan ternak bahkan mengandangkan ternaknya tepat disamping rumah (berhimpit). Untuk penerangan masyarakat desa ulak segelung masih menggunakan lampu teplok (minyak tanah) dan genset (sebagian kecil saja masyarakat yang punya). Sedangkan untuk pelayanan pemerintahan di tingkat desa dan tempat musyawarah desa masih menggunakan rumah pribadi kepala desa.
Mengenai kondisi pendidikan, Desa Ulak Segelung hanya memiliki 1 (satu) Sekolah Dasar dimana untuk melanjutkan pendidikan SLTP dan SLTA harus ke desa tetangga atau ke kecamatan yang berjarak 4 – 8 Km. Dengan jauhnya jangkauan jarak pendidikan tersebut dan sulitnya transportasi maka menjadi salah satu faktor anak-anak putus sekolah. Dari hasil wawancara dengan salah satu guru di sana terungkap dari 25 orang yang menamatkan SD, hanya sekitar 1-2 orang yang melanjutkan ke tingkat SLTP.
Tetapi kondisi di masa depan diharapkan akan lebih baik, karena saat ini pemerintah daerah Ogan Ilir sedang membangun gedung SLTP yang berlokasi di desa Tanjung Agung. Selain itu terdapat program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang merupakan program Tim Penggerak PKK Kab. Ogan Ilir berjalan cukup baik. Adanya PAUD ini tentu sangat membantu orang tua dalam mendidik anak-anak usia dini , dan tentunya juga mendukung peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia sejak dini.
Kebanyakan penduduk bermatapencaharian sebagai petani swah lebak. Selain itu, ada juga yang bermata pencaharian sebagai nelayan, beberapa masyarakat desa Ulak Segelung juga bermata pencaharian sebagai peternak, pedagang dan buruh tani (sebagian besar). Pendapatan masyarakat masih sangat rendah, tidak tetap dan umumnya baru diperoleh sesuai musim.
Desa Ulak Segelung memiliki luas wilayah 1500 Ha yang termasuk dataran rendah dan sebagian besar wilayahnya berupa rawa-rawa(± 60 %) dan lahan kering sebagai tempat berkebun karet, buah-buahan dan pemukiman. Dengan kondisi tersebut (red rawa-rawa) masyarakat mengusahakan lahannya dengan menanam padi (saat air surut) dan mencari ikan (air dalam).
Dari ± 900 hektar lahan sawah sebagian besar kepemilikannya dikuasai oleh sebagian kecil masyarakat (elit desa dan tuan tanah). Kondisi ini menyebabkan ketergantungan masyarakat dengan pemilik modal (pemilik tanah lebak) sangat tinggi yang berakibat rendahnya posisi tawar petani penggarap.
Desa ulak segelung memiliki objek lebak lebung yang menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten Ogan Ilir. Tercatat lebih kurang ada 3 objek lebak lebung yaitu Buntut Arisan, Teluk Gerije dan Pematang Aur dengan total harga lelang yang masuk ke KAS PEMDA Rp. 26.000.000,-. Kebijakan ini menjadi sangat tidak pro poor ketika pemenang lelang adalah bukan masyarakat desa ulak segelung yang akan memiliki hak atas lebung yang terdapat dilahan milik masyarakat tanpa dapat diakses oleh masyarakat itu sendiri untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Sarana dan prasarana umum lainnya yang ada di desa ulak segelung yakni jalan desa yang baru dapat dilalui kendaraan roda empat. Kondisi jalan tersebut masih berupa timbunan yang apabila terjadi musim hujan jalan tersebut tidak dapat dilalui kendaraan.

Gagasan Tanaman Durian untuk Tabungan Pendidikan
Salah satu hal yang mencolok dan menjadi permasalahan utama di desa Ulak Segelung, terutama di sektor pendidikan adalah rendahnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Tingkat pendidikan anak-anak di Desa Ulak Segelung rata-rata hanya sebatas sekolah dasar. Beberapa hal dapat menjadi alasan mengapa para orang tua enggan menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, terutama alasan ekonomi. Ketiadaan biaya, ataupun jauhnya jarak antara desa dengan gedung sekolah.
Biasanya, anak yang putus sekolah ini langsung menjadi tenaga kerja untuk membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Budaya hidup di kebun dengan beragam karakter yang menyertainya kemudian menempa sang anak menjadi seorang anak yang mempunyai tipikal keras dan temperamental. Bukan menjadi rahasia umum lagi, kalau budaya pisau di pinggang masih menjadi sebuah tradisi turun menurun di lokasi ini, sehingga menyebabkan tingkat kriminalitas di desa ini tinggi. Satu hal yang sebenarnya dapat menghentikan budaya ini, dengan mengubah pola pikir sang anak, salah satunya melalui pendidikan formal.
Masalah biaya pendidikan sang anak sebenarnya juga bukan menjadi masalah krusial, jika sang orang tua menggalakkan budaya menabung. Dari kajian kalender musim selama setahun, sebenarnya hanya ada satu sampai dua bulan saja aktifitas masyarakat terhenti di desa tersebut. Artinya, selama 10 bulan lebih masyarakat dapat menggantungkan hidupnya dari sumber daya yang ada di desa tersebut, mulai dari sawah lebak, menjadi nelayan musiman hingga hasil tanaman buah tropis. Dan, dari kegiatan tersebut dapat disisihkan sebagian sebagai biaya pendidikan sang anak. Namun, tetap saja hal ini menjadi sulit dilakukan pada masyarakat yang budaya menabungnya juga rendah. Dengan menanam durian sebagai tabungan pendidikan, diharapkan sang anak sendiri yang akan memeliharanya hingga tanaman tersebut menghasilkan. Kesadaran ini diharapkan akan menjadi kesadaran kolektif level keluarga dalam usaha meningkatkan sumber daya manusia di desa Ulak Segelung.
Selain untuk kepentingan tabungan pendidikan, isu kepedulian lingkungan juga menjadi sorotan di tengah rendahnya kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan di desa tersebut. Ada banyak kasus, di mana masyarakat yang selama ini telah menikmati hasil kebun berupa buah-buahan, tiba-tiba membabat habis tanaman tersebut dengan harapan mendapatkan keuntungan sementara. Akibatnya, buah-buahan yang sebenarnya bisa didapatkan di kebun mereka, menjadi tanaman langka dan mereka harus membeli dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk menikmati lezatnya buah durian. Artinya juga, gerakan menanam durian ini sebagai jawaban terhadap semakin berkurangnya tegakan-tegakan tanaman potensial yang dapat dinikmati tidak hanya kayu (non timber) sebagai hasil ekonomisnya dengan menanam tanaman-tanaman muda yang akan menjadi sumber ekonomi di masa depan.

Tidak ada komentar: